Genre : Drama
Sutradara : Teddy Soeriaatmadja
Penulis Naskah : Ayu Utami
Cast : Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Nino Fernandez, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, Verdy Solaiman.
Durasi : 90 menit


Membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air melalui tayangan layar lebar tidak melulu harus mengangkat kisah anak daerah terpencil yang begitu bersemangat menuntut ilmu. Di luar Laskar Pelangi, Denias di Atas Awan dan Tanah Air Beta, ada satu lagi karya anak bangsa yang pantas disebut meski cerita yang diangkat melangkah jauh dari garis batas stereotip, yaitu Ruma Maida, sebuah film buah karya sutradara Teddy Soeriaatmadja dan penulis feminis Ayu Utami. Ceritanya? Tentang Maida Manurung, gadis kuliahan yang kikuk, sembrono dan ceroboh namun idealis di tengah setting ibukota tahun 1998. Bukan sesuatu yang biasa kita lihat wara wiri di bioskop sebelumnya , dan justru itulah yang meyakinkan kita, apalagi dengan nama besar Ayu Utami di baliknya, bahwa film ini memang lebih dari sekedar hiburan. Film ini dibuat untuk memberi pelajaran.
Dirilis nyaris setahun berselang, Ruma Maida mengisahkan tentang sekolah liar untuk anak-anak jalanan yang telah dua tahun didirikan Maida di sebuah bangunan terbengkalai. Namun ia harus menerima kenyataan pahit bahwa tempatnya mengabdi pada masyarakat selama ini telah dibeli oleh seorang pengusaha kaya, Dasaad Muchlisin dan akan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan. Maida pun berjuang keras mempertahankan sekolah liarnya dengan dibantu Sakera, insinyur sang pebisnis yang selama tahun-tahunnya sebagai seorang mahasiswa juga adalah seorang aktivis dan menaruh simpati pada apa yang dilakukan Maida.
Kunjungan singkat ke rumah pamannya, seorang veteran etnis Tiong Hoa, memberi secercah harapan bagi Maida. Rumah itu ternyata masih berstatus sengketa – masa depan sekolah Maida sepenuhnya terletak pada keberhasilan mereka mencari jejak pemilik yang sebenarnya. Maka bersama Sakera, Maida pun berusaha menyingkap misteri rumah terbengkalai tersebut, yang ternyata, lebih dari sekedar rumah.
Rumah tersebut adalah saksi sejarah; saksi bisu kisah cinta Ishak Pahing, seorang penerbang, dan Nani Kudus, seorang penyangi, di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Tentang 28 Oktober 1928, ketika pemuda Indonesia bersumpah untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Tentang Bung Karno yang dipenjara atas usahanya membangkitkan kesadaran bangsa bahwa ya, kemerdekaan adalah hak kita. Tentang keluarga kecil yang mereka bangun di rumah tersebut, yang tercerai berai dan hancur berkeping-keping seperti halnya bangsa ini saat Jepang menduduki tanah air.
Melalui tokoh Maida, film ini bercerita tentang Indonesia masa kini. Tentang perjuangan seorang gadis muda memperjuangkan idealismenya di tengah-tengah nilai kebangsaan yang porak poranda. Melalui tokoh Ishak Pahing dan Nani Kudus, film ini juga berkisah tentang nilai-nilai kebangsaan tersebut, namun saat ia masih baru, berkilau, diperjuangkan para pendiri negeri ini dan memberi mereka semangat bahwa ya, kita bisa merdeka. Dua poros utama inilah yang disatukan oleh rumah tersebut.
Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 yang direka dengan sempurna dalam film ini, salah satunya, adalah adegan yang begitu mengorek rasa nasionalisme dalam diri. Setelah reformasi, perubahan politik besar-besaran yang kita lakukan, apakah bangsa ini berhasil ditata kembali? Di tengah krisis, kita melihat terjadinya kekerasaan kelompok atas nama suku, agama, golongan. Rasanya, persatuan kita mulai goyah. Begitu juga, rasa kebangsaan mulai pudar. Pedih rasanya melihat puing-puing pertokoan pasca orasi mahasiswa, dengan tulisan “Milik H. Ichal, Muslim” diatasnya.
Ini membawa kita flashback kembali ke adegan Bung Karno duduk sendirian di bangsal penjaranya. Saat ia merenung dan berpikir, dan akhirnya pada ujung penanya tersusunlah pledoi yang mengukir nama dalam sejarah. Tentang perselisihan para pendiri bangsa ini: Hatta dan Sjahrir berpendapat untuk mendidik bangsa ini dulu sebelum merdeka, sedangkan Soekarno berpendapat bahwa jika kita menunggu bangsa ini terdidik, maka kita tidak akan pernah merdeka sampai ke liang kubur. Yah, mana yang lebih dulu. Bangsa yang merdeka, atau jiwa yang merdeka?
Film ini mungkin pada intinya dalah sebuah drama cinta, namun benar-benar membuka pandangan kita akan isu-isu kebangsaan negeri ini: kurangnya pendidikan, kebhinekaan yang terancam orang-orang yang tidak toleran dan masyarakat yang tidak mengerti sejarah. Namun Ruma Maida menggambarkannya dengan optimis, percaya bahwa masih banyak anak muda idealis yang ingin memperbaiki keadaaan dan meneruskan cita-cita para pelopor negeri: “Mencerdaskan kehidupan bangsa" dan hidup damai secara "bhineka tunggal ika". Ruma Maida dibuat agar semakin banyak generasi muda yang idealis seperti Maida, yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan toleran (terbuka).
Kualitas akting kelas teater merupakan hal lain yang patut diacungi jempol dari film ini. Di jajaran pemain, aktris berwajah keras yang juga putri aktris dan aktivis Ratna Sarumpaet, Atiqah Hasiholan, berperan sebagai Maida. Yama Carlos sebagai Sakera, Frans Tumbuan sebagai Dasaad Muchlisin, Imelda Soraya sebagai Nani Kuddus, Nino Fernandez sebagai Ishak Pahing, serta para pemain lain seperti Davina Veronica Hariadi, Wulan Guritno, Verdi Solaiman, Hengky Solaiman dan anak-anak Maida yaitu Lucky Martin, Yehuda Rumbini, Alivia Aurice Pradiesha, Insos Sabarofek, Yobel Nathaniel. Tokoh Bung Karno yang diperankan oleh Imam Nurbuwono juga dibawakan dengan sangat baik.
Sinematografi Ruma Maida dibedakan dengan jelas antara masa sebelum kemerdekaan dan masa reformasi. Masa sebelum kemerdekaan diwakili lewat gambar-gambar artificial, kamera statis, tidak terlalu close-up seperti halnya foto-foto jaman dulu. Hasil akhirnya tidak serealistis yang diharapkan, namun bukan masalah untuk film yang mementingkan cerita dibanding action. Sementara itu gambar-gambar masa reformasi diambil sesuai dengan apa adanya, kameranya handheld. Gaya flashback yang meloncat dari masa sebelum kemerdekaan ke masa reformasi maupun sebaliknya membuat timelinenya sedikit susah diikuti, namun anehnya, mampu mengaburkan garis batas antara fiksi dan sejarah di film ini. Rasanya seperti membaca The Da Vinci Code-nya Dan Brown.
Grup band NAIF sebagai pemegang soundtrack mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu “Keroncong Tenggara” yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus, Imelda Soraya. Hasilnya lebih ramah telinga dan fun untuk didengar, namun efeknya untuk menyayat hati dan membuat kita bernostalgia sama sekali tidak berkurang.
Salah satu yang mungkin mesti disesalkan adalah ketidakcermatan sutradara (atau mungkin aktornya) dalam pengucapan dialog beberapa tokoh. Tokoh Bung Karno benar-benar ditiru secara detail sampai ke “ken”-nya, namun tokoh Ishak Pahing berbahasa gaul. Kesalahan kecil, namun benar-benar menghancurkan mood. Masalahnya, kalau wardrobe dan setting saja bisa dibuat sedetil itu, seberapa susahnya sih meriset sedikit untuk mencari tahu seperti apa orang-orang kala itu berbicara?
Film ini berakhir pada keberhasilan Maida meyakinkan Dasaad Muchlisin untuk mempertahankan rumah tersebut dan sekolah liarnya, meskipun itu karena ada keterkaitan antara sejarah rumah itu dan riwayat hidup Dasaad Muchlisin. Namun mereka berhasil meyakinkan sang pebisnis bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang bisa dibuang begitu saja – bagaimanapun pahitnya, bagaimanapun tak bergunanya. Sepeti kata Bapak Proklamator, JAS MERAH – Jangan pernah melupakan sejarah. (Tata)
Chatboard (3)