Weblog

Friday, 30 March 2012

  • Ruma Maida: Refleksi Indonesia Dalam Sejarah dan Fiksi

    Genre                   : Drama

    Sutradara            : Teddy Soeriaatmadja

    Penulis Naskah : Ayu Utami

    Cast                       : Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Nino Fernandez, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, Verdy Solaiman.

    Durasi                   : 90 menit

     

    Membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air melalui tayangan layar lebar tidak melulu harus mengangkat kisah anak daerah terpencil  yang begitu bersemangat menuntut ilmu. Di luar Laskar Pelangi, Denias di Atas Awan dan Tanah Air Beta, ada satu lagi karya anak bangsa yang pantas disebut meski cerita yang diangkat melangkah jauh dari garis batas stereotip, yaitu Ruma Maida, sebuah film buah karya sutradara Teddy Soeriaatmadja dan penulis feminis Ayu Utami. Ceritanya? Tentang Maida Manurung, gadis kuliahan yang kikuk, sembrono dan ceroboh namun idealis di tengah setting ibukota tahun 1998. Bukan sesuatu yang biasa kita lihat wara wiri di bioskop sebelumnya , dan justru itulah yang meyakinkan kita, apalagi dengan nama besar Ayu Utami di baliknya, bahwa film ini memang lebih dari sekedar hiburan. Film ini dibuat untuk memberi pelajaran.

    Dirilis nyaris setahun berselang, Ruma Maida mengisahkan tentang sekolah liar untuk  anak-anak jalanan yang telah dua tahun didirikan Maida di sebuah bangunan terbengkalai. Namun ia harus menerima kenyataan pahit bahwa tempatnya mengabdi pada masyarakat selama ini telah dibeli oleh seorang pengusaha kaya, Dasaad Muchlisin dan akan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan. Maida pun berjuang keras mempertahankan sekolah liarnya dengan dibantu Sakera, insinyur sang pebisnis yang selama tahun-tahunnya sebagai seorang mahasiswa juga adalah seorang aktivis dan menaruh simpati pada apa yang dilakukan Maida.

    Kunjungan singkat ke rumah pamannya, seorang veteran etnis Tiong Hoa, memberi secercah harapan bagi Maida. Rumah itu ternyata masih berstatus sengketa – masa depan sekolah Maida sepenuhnya terletak pada keberhasilan mereka mencari jejak pemilik yang sebenarnya. Maka bersama Sakera, Maida pun berusaha menyingkap misteri rumah terbengkalai tersebut, yang ternyata, lebih dari sekedar rumah.

    Rumah tersebut adalah saksi sejarah; saksi bisu kisah cinta Ishak Pahing, seorang penerbang, dan Nani Kudus, seorang penyangi, di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Tentang 28 Oktober 1928, ketika pemuda Indonesia  bersumpah untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Tentang Bung Karno yang dipenjara atas usahanya membangkitkan kesadaran bangsa bahwa ya, kemerdekaan adalah hak kita. Tentang keluarga kecil yang mereka bangun di rumah tersebut, yang tercerai berai dan hancur berkeping-keping seperti halnya bangsa ini saat Jepang menduduki tanah air.

    Melalui tokoh Maida, film ini bercerita tentang Indonesia masa kini. Tentang perjuangan seorang gadis muda memperjuangkan idealismenya di tengah-tengah nilai kebangsaan yang porak poranda. Melalui tokoh Ishak Pahing dan Nani Kudus, film ini juga berkisah tentang nilai-nilai kebangsaan tersebut, namun saat ia masih baru, berkilau, diperjuangkan para pendiri negeri ini dan memberi mereka semangat bahwa ya, kita bisa merdeka. Dua poros utama inilah yang disatukan oleh rumah tersebut. 

    Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 yang direka dengan sempurna dalam film ini, salah satunya, adalah adegan yang begitu mengorek rasa nasionalisme dalam diri. Setelah reformasi, perubahan politik besar-besaran yang kita lakukan, apakah bangsa ini berhasil ditata kembali? Di tengah krisis, kita melihat terjadinya kekerasaan kelompok atas nama suku, agama, golongan.  Rasanya, persatuan kita mulai goyah. Begitu juga, rasa kebangsaan mulai pudar. Pedih rasanya melihat puing-puing pertokoan pasca orasi mahasiswa, dengan tulisan “Milik H. Ichal, Muslim” diatasnya.

    Ini membawa kita flashback kembali ke adegan Bung Karno duduk sendirian di bangsal penjaranya. Saat ia merenung dan berpikir, dan akhirnya pada ujung penanya tersusunlah pledoi yang mengukir nama dalam sejarah. Tentang perselisihan para pendiri bangsa ini: Hatta dan Sjahrir berpendapat untuk mendidik bangsa ini dulu sebelum merdeka, sedangkan Soekarno berpendapat bahwa jika kita menunggu bangsa ini terdidik, maka kita tidak akan pernah merdeka sampai ke liang kubur. Yah, mana yang lebih dulu. Bangsa yang merdeka, atau jiwa yang merdeka?

    Film ini mungkin pada intinya dalah sebuah drama cinta, namun benar-benar membuka pandangan kita akan isu-isu kebangsaan negeri ini: kurangnya pendidikan, kebhinekaan yang terancam orang-orang yang tidak toleran dan masyarakat yang tidak mengerti sejarah. Namun Ruma Maida menggambarkannya dengan optimis, percaya bahwa masih banyak anak muda idealis yang ingin memperbaiki keadaaan dan meneruskan cita-cita para pelopor negeri: “Mencerdaskan kehidupan bangsa" dan hidup damai secara "bhineka tunggal ika". Ruma Maida dibuat agar semakin banyak generasi muda yang idealis seperti Maida, yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan toleran (terbuka).

    Kualitas akting kelas teater merupakan hal lain yang patut diacungi jempol dari film ini. Di jajaran pemain, aktris berwajah keras yang juga putri aktris dan aktivis Ratna Sarumpaet, Atiqah Hasiholan, berperan sebagai Maida. Yama Carlos sebagai Sakera, Frans Tumbuan sebagai Dasaad Muchlisin, Imelda Soraya sebagai Nani Kuddus, Nino Fernandez sebagai Ishak Pahing, serta para pemain lain seperti Davina Veronica Hariadi, Wulan Guritno, Verdi Solaiman, Hengky Solaiman dan anak-anak Maida yaitu Lucky Martin, Yehuda Rumbini, Alivia Aurice Pradiesha, Insos Sabarofek, Yobel Nathaniel. Tokoh Bung Karno yang diperankan oleh Imam Nurbuwono juga dibawakan dengan sangat baik.

    Sinematografi Ruma Maida dibedakan dengan jelas antara masa sebelum kemerdekaan dan masa reformasi. Masa sebelum kemerdekaan diwakili lewat gambar-gambar artificial, kamera statis, tidak terlalu close-up seperti halnya foto-foto jaman dulu. Hasil akhirnya tidak serealistis yang diharapkan, namun bukan masalah untuk film yang mementingkan cerita dibanding action. Sementara itu gambar-gambar masa reformasi diambil sesuai dengan apa adanya, kameranya handheld. Gaya flashback yang meloncat dari masa sebelum kemerdekaan ke masa reformasi maupun sebaliknya membuat timelinenya sedikit susah diikuti, namun anehnya, mampu mengaburkan garis batas antara fiksi dan sejarah di film ini. Rasanya seperti membaca The Da Vinci Code-nya Dan Brown.

    Grup band NAIF sebagai pemegang soundtrack mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu “Keroncong Tenggara” yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus, Imelda Soraya. Hasilnya lebih ramah telinga dan fun untuk didengar, namun efeknya untuk menyayat hati dan membuat kita bernostalgia sama sekali tidak berkurang.

    Salah satu yang mungkin mesti disesalkan adalah ketidakcermatan sutradara (atau mungkin aktornya) dalam pengucapan dialog beberapa tokoh. Tokoh Bung Karno benar-benar ditiru secara detail sampai ke “ken”-nya, namun tokoh Ishak Pahing berbahasa gaul. Kesalahan kecil, namun benar-benar menghancurkan mood. Masalahnya, kalau wardrobe dan setting saja bisa dibuat sedetil itu, seberapa susahnya sih meriset sedikit untuk mencari tahu seperti apa orang-orang kala itu berbicara?

    Film ini berakhir pada keberhasilan Maida meyakinkan Dasaad Muchlisin untuk mempertahankan rumah tersebut dan sekolah liarnya, meskipun itu karena ada keterkaitan antara sejarah  rumah itu dan riwayat hidup Dasaad Muchlisin. Namun mereka berhasil meyakinkan sang pebisnis bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang bisa dibuang begitu saja – bagaimanapun pahitnya, bagaimanapun tak bergunanya. Sepeti kata Bapak Proklamator, JAS MERAH – Jangan pernah melupakan sejarah.  (Tata)

     

     

Friday, 20 May 2011

  • Black Snake Moan: A Review

    Habis nonton Black Snake Moan (padahal mestinya aku belajar Statmat) dan akhirnya bisa juga menyusun alasan tentang mengapa film ini begitu ....

    Begitu ...

    Strike a chord in my head apa sih bahasa Indonesianya? Anyway, alasannya seperti ini:

    Ingat nggak berita ini, udah lama sih, tentang dua orang gadis yang masuk pemukiman Muslim (ini berita dari barat, US kayaknya) dengan pakaian tak senonoh dan kemudian diperkosa ramai-ramai oleh sekelompok cowok dari wilayah itu, dan cowok-cowok itu masih punya muka untuk bertingkah jadi polisi moral dan berkata bahwa menurut mereka daging yang tidak ditutupi macam begitu pantas diberi pelajaran?

    Cewek-cewek itu berpakaian tak senonoh. Oh yeah, of course, tindakan itu begitu amoral sehingga itu merupakan alasan penuh dan tak bisa digugat untuk cowok-cowok itu bahwa mereka boleh melakukan perkosaan *rolls eyes*.  Kalau memang itu tindakan yang salah, kenapa nggak biarkan saja Tuhan yang memberi hukuman? Setiap orang dilahirkan dengan kontrol diri – jika seorang gadis, misalnya, berpakaian terbuka, dan kemudian tindakan tak senonoh terjadi, kenapa Cuma si cewek yang disalahkan? Jadi cewek yang berpakaian mengundang itu semacam pembenaran bagi cowok untuk menghakimi si cewek dan berbuat apapun yang mereka inginkan, begitu? 

    Cowok-cowok itu nggak harus kayak gitu, kok, kalau mereka memang begitu suci dan merasa sekian level lebih moralis dari si cewek, mereka bisa saja berbalik dan pergi, atau paling nggak memberi tahu si cewek dengan menutup mata, “Maaf jeng, tapi tolong dong pulang dan pakai pakaian yang lebih pantas,” atau semacamnya, tapi nggak tuh. Mereka lebih memilih untuk memperkosa mereka. Dan masih punya muka berkata bahwa itu semua demi alasan moralitas dan kepantasan. Dan disini, aku gagal total melihat bagaimana aku bisa menganggap tindakan para cowok itu pantas dan benar.

    Cowok-cowok itu bukan moralis; mereka hanya orang-orang yang ingin berbuat tidak baik tanpa menodai kesucian image mereka. Orang-orang yang menyamarkan tindakan amoral mereka dengan bertingkah sebagai polisi moral begitu benar-benar memuakkan.

    Nggak, yang diatas itu memang bukan naskah Black Snake Moan, tapi close enough. Intinya sama, tentang seorang cewek yang dianggap noda masyarakat dan respon orang-orang di sekitarnya. Seberapa persen peluang cowok di dunia nyata untuk bersikap seperti Lazarus Reed kalau mereka bertemu cewek kayak Rae?

    0%.  Yah, mendekati lah. Maksudnya, buat apa? Mereka kemungkinan berpikir cewek itu toh sudah rusak, ikut-ikutan merusaknya nggak akan membuat banyak perbedaan. Tanpa menyadari bahwa merusak adalah merusak, dan bahwa mereka bukan Tuhan; mereka nggak punya hak menghakimi orang yang sudah rusak, hanya agar mereka bisa melepaskan nafsu binatang mereka dan setelah itu masih bisa merasa tak bersalah soal itu.  Tanpa menyadari bahwa gadis itu juga manusia – yang nggak pernah diperlakukan dengan benar seluruh hidupnya. Dan meskipun aku nggak tahu apakah dirusak berkali-kali lagi itu akan membuat perbedaan atau tidak, aku sangat tahu – siapapun tahu – bahwa diperlakukan dengan benar hanya sekali saja akan membuat perbedaan yang besar.

    Get real, people. Be kind. Everyone has their own battles.

    Stop judging.

     

Wednesday, 26 May 2010

  • Tata :

    is a neurotic antisocial paranoid super-skank.
    currently likes picking up the strays. It makes her feel powerful and a little evil.
    is a nerd who depends on computer and internet to survive.
    has a hidden weakness for guys with broad shoulders and green eyes.
    has a terribly horrible weakness for smart guys who can make her laugh with him.
    needs to laugh more often.
    is still figuring out her hair.
    is very temperamental.
    is Pro-Choice and supporter of LGBT. And she has a reason for it - reason that can fill up a thesis.
    want to be a mother, but she doesn't think she deserves it.
    secretly love watching Valentine's Day. And she cried over the scene when Captain Kate Hazeltine finally meet her son.
    is obsessed with thin wrists and jutted collar bone.
    is recovering from ED-NOS.
    is slow to bond, quick to flee. Never be able to maintain a decent relationship with anyone: parents, friends, bestfriends, boyfriends, teachers, etc.
    is still struggling to find a reason why she don't have to hate herself.

Thursday, 25 February 2010

  • Sometimes, word just never enough:

    A letter to a friend of mine I love yet hate the most:

    I’m not stupid, and this is not a conceited statement in any way. Saying I’m not stupid isn’t the same as saying I’m a genius or I know everything. Saying I’m not stupid also isn’t as conceited as acting like I know everything and everybody else who comes near me is just a pathetic excuse for a person who tries to suck up my brain power. I’m just not stupid, as in I’m capable enough to get a 2.95 GPA (Note: average GPA in my class is 2.5) without anyone’s help, as in I’m capable enough to get proper grades as long as I study and read properly too. I have a subject in where I’m smart. I have passion and interests, a lot of it. I’m not stupid I have to crawl behind my friend in every class. My GPA is never at the lower half of the class. There’s a time when I need help from others, but not that much.

    I’m also not a lesbian. I never had a boyfriend because I’m an antisocial with fucked up emotional skill. I can’t even maintain a good relationship with my parents or my friends, let alone some random boy I barely know and trust. Not because I’m a lesbian. I’m a heterosexual, and I’m sure of it, thanks. I’m attracted to guys. I get horny because of guys. Penis disgusts me but it’s still the one that gives me orgasm, not vagina. So, if I point out if this girl is beautiful, that girl is hot or if I state weird comments about homosexuality (as in positive comments) or if I watch a movie with gay characters in it or if I show any signs that I don’t mind about homosexuality, that doesn’t automatically mean I’m a homosexual. It just means that I’m open-minded and tolerant and not homophobic, unlike you. Yeah, I’m a supporter of LGBT; I’m a heterosexual who stands for homosexual rights. Since when and why is not your business, because if you’re shallow and dense enough to conclude me a lesbian because of those stupid reasons, you won’t understand.

    Ever.

    Do you ever realize that when I decide to be friend with you, that is just because I like you? No, I don’t think I can trust you. No, I’m not trying to pump up my study progress by approaching you (which really makes no sense). No, I’m not trying to be your best friend. I don’t want to be anyone’s best friend. I just think you are fun, that you are a good person and I can stand being with you for five minutes without getting bored. But you somehow manage to make it sounds like very horrible things. Like no one is good enough for you. Like anyone trying to be your friend is a tramp; you have to choose who is good enough to be your friends. And there’s always something wrong with them, always, and you have every right to talk about it. Like you know everything. Like no one is good enough for you.

    God.

    I don’t know what the case here. Maybe you are too pleased with yourself. Or maybe you are too insecure with yourself. Either way, I’m trying to be a good friend and understand, but I have a limit, you know.

    I don’t need you. You give me every reason in the world to not need you. Nobody needs to be made to feel like they are too low. Nobody needs arrogant, conceited people who think they’re too high to be reached. Nobody needs to feel so imperfect. I don’t need you, I just like you. And that’s not good enough for you.

    Nothing is good enough for you. Because you are ooooooooffffhhhhh the perfect ones. You are the flawless and everybody is full of flaw and since you have no flaw you’re free to talk about them and their flaws. YOU FUCKING HAVE NO FLAWS, YOU KNOW ABOUT EVERYONE’S FLAWS, YOU KNOW ABOUT EVERYONE AND YOU ARE FUCKING FREE TO TALK ABOUT THEM.

    I’m lost at words now.

    Who the fuck do you think you are?

Monday, 11 January 2010

  • 10 Reasons Why Gay Marriage is Wrong

    1) Being gay is not natural. Real Americans always reject unnatural things like eyeglasses, polyester, and air conditioning.


    2) Gay marriage will encourage people to be gay, in the same way that hanging around tall people will make you tall.



    3) Gay marriage will change the foundation of society; we could never adapt to new social norms. Just like we haven't adapted to cars, the service-sector economy, or longer life spans.


    4) Straight marriage has been around a long time and hasn't changed at all; women are still property, blacks still can't marry whites, and divorce is still illegal.


    5) Straight marriage will be less meaningful if gay marriage were allowed; the sanctity of Brittany Spears' 55-hour just-for-fun marriage would be destroyed.


    6) Straight marriages are valid because they produce children. Gay couples, infertile couples, and old people shouldn't be allowed to marry because our orphanages aren't full yet, and the world needs more children.


    7) Obviously gay parents will raise gay children, since straight parents only raise straight children.


    8) Gay marriage is not supported by religion. In a theocracy like ours, the values of one religion are imposed on the entire country. That's why we have only one religion in America.


    9) Children can never succeed without a male and a female role model at home. That's why we as a society expressly forbid single parents to raise children.


    10) Legalizing gay marriage will open the door to all kinds of crazy behavior. People may even wish to marry their pets because a dog has legal standing and can sign a marriage contract.

    Disclaimer: This is an old stuff and I don't own it. I just can't let it die unnoticed in my computer hard disk, so I posted it here.

tata_on_the_roof

  • Visit tata_on_the_roof's Xanga Site
    • Name: Russasmita
    • Birthday: 2/23/1990
    • Gender: Female
    • Member Since: 12/4/2008

Archives

Don't worry - your calendar is here… to see it in action just click "Save" above and refresh the page.

About Me

  • I'm a scared little girl.

Subscriptions

Pulse

Chatboard (3)

  • AlterEgo909
    Hey Hope All Well!
  • tata_on_the_roof
    I'm still young, and on my way there. Just wait for me :)
  • gene546
    When I was young I felt happy, now I’m old but I feel lucky. I’m old enough to know good and evil. Gene546
    • Posted 1/11/2010 9:35 PM
    • by gene546